SELAMAT DATANG DI PEMULA AREA

Tampilkan postingan dengan label Tips berorganisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips berorganisasi. Tampilkan semua postingan

KOMITMEN ORGANISASI

>> 05 November 2009

Komitmen organisasi yang tinggi sangat diperlukan dalam sebuah organisasi, karena terciptanya komitmen yang tinggi akan mempengaruhi situasi kerja yang profesional. Berbicara mengenai komitmen organisasi tidak bisa dilepaskan dari sebuah istilah loyalitas yang sering mengikuti kata komitmen. Pemahaman demikian membuat istilah loyalitas dan komitmen mengandung makna yang confuse.

Loyalitas disini secara sempit diartikan sebagai seberapa lama seorang karyawan bekerja dalam suatu organisasi atau sejauh mana mereka tunduk pada perintah atasan tanpa melihat kualitas kontribusi terhadap organisasi. Muncul suatu fenomena di Indonesia bahwa seorang karyawan akan dinilai loyal, bilamana tunduk pada atasan walaupun bukan dalam konteks hubungan kerja. (Alwi, 2001).

Komitmen organisasi, menurut Alwi, (2001) adalah sikap karyawan untuk tetap berada dalam organisasi dan terlibat dalam upaya-upaya mencapai misi, nilai-nilai dan tujuan organisasi. Lebih lanjut dijelaskan, bahwa komitmen merupakan suatu bentuk loyalitas yang lebih konkret yang dapat dilihat dari sejauh mana karyawan mencurahkan perhatiasn, gagasan, dan tanggung jawab dalam upaya mencapai tujuan organisasi.

Robbins, (1998) berpendapat bahwa komitmen organisasi adalah sampai tingkat mana seseorang karyawan memihak pada suatu organisasi tertentu dan tujuan-tujuannya, dan berniat memelihara keanggotaan dalam organisasi itu. Komitmen organisasi yang tinggi berarti terdapat kepemihakan kepada organisasi yang tinggi pula. Komitmen sebagai prediktor kinerja seseorang merupakan prediktor yang lebih baik dan bersifat global, dan bertahan dalam organisasi sebagai suatu keseluruhan daripada kepuasan kerja semata. Seseorang dapat tidak puas dengan pekerjaan tertentu dan menganggapnya sebagai kondisi sementara, tapi tidak puas terhadap organisasi adalah sebagai suatu keseluruhan, dan ketidakpuasan tersebut bila menjalar ke organisasi, dapat mendorong seseorang untuk mempertimbangkan diri minta berhenti.

Dessler, (1994), berpendapat bahwa komitmen organisasi merupakan kekuatan identifikasi dari keterlibatan individu dengan organisasi. Komitmen yang tinggi dicirikan dengan 3 hal, yaitu :

1. Kepercayaan dan penerimaan yang kuat terhadap tujuan dan nilai-nilai organisasi
2. Kemauan yang kuat untuk bekerja demi organisasi
3. Keinginan yang kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi.

Komitmen nampak dalam bentuk sikap yang terpisah, tetapi tetap saling berhubungan erat, yaitu : identifikasi dengan misi organisasi, keterlibatan secara psikologis dengan tujuan-tujuan organisasi, dan loyalitas serta keterikatan dengan organisasi.

Ashkanasy, e. al, (2000), mengemukakan pendapat Porter bahwa komitmen organisasi maupun union commitment mempunyai pengertian sama. Pengertian ini mengacu pada definisi bahwa komitmen organisasi merupakan keinginan individu untuk mempertahankan keanggotaan dalam kelompok, keinginan untuk berusaha keras demi kepentingan kelompok, mempunyai kepercayaan untuk menerima nilai-nilai dan tujuan organisasi.

Begley dan Czajka, (1993), menguraikan pendapat Mowday, et, al, tentang definisi komitmen organisasi yaitu sebagai suatu keyakinan yang kuat terhadap tujuan dan nilai-nilai organisasi, keamanan menggunakan segala upaya untuk mewujudkan kepercayaan pada organisasi, serta sebuah keyakinan yang kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi.

Gibson, et. al, (1995) menguraikan pendapat Buchanan, bahwa komitmen organisasi melibatkan 3 sikap, yaitu:

1. Identifikasi dengan tujuan organisasi
2. Perasaan keterlibatan dalam tugas-tugas organisasi
3. Perasaan loyalitas terhadap organisasi.

Hasil risetnya menunjukkan bahwa tidak adanya komitmen bisa berakibat menurunnya efektivitas organisasi.

Muchinsky, (2001) berpendapat bahwa komitmen organisasi adalah derajat tingkat dimana seorang karyawan merasakan suatu perasaan, pengertian, serta kesetiaan kepada organisasi. Sejalan dengan hal tersebut Allen dan Meyer (1990) menguraikan 3 (tiga) komponen, yaitu : a) komponen afektif, yang mengacu kepada kecenderungan emosional karyawan, sebagaimana diidentifikasikan oleh organisasi; b) komponen berkelanjutan, yang mengacu kepada biaya-biaya yang diperoleh selama hidup dalam organisasi; c) komponen normatif, yang mengacu kepada kewajiban-kewajiban karyawan terhadap organisasi.

Meyer, (1997), menyatakan bahwa di dalam komitmen organisasi secara umum mencerminkan hubungan antara karyawan dengan organisasi, dan hal itu mempunyai implikasi bagi karyawan untuk memutuskan tetap berkeinginan menjadi anggota organisasi tersebut, dan ini memungkinkan bagi karyawan untuk tetap tinggal bersama-sama dalam organisasi tersebut.

Morrow, (1993), berpendapat bahwa seseorang dapat merasa terikat dan komitmen dengan lingkup organisasi dikarenakan faktor pekerjaan, jabatan, dan keberadaannya. Terkait dengan hal tersebut, Brown, (1996) atas dasar pengetahuan meta-analisa mengemukakan bahwa terdapat hubungan korelasi antara komitmen organisasi dan pekerjaan lain yang terkait. Korelasi tersebut digambarkan terkait dengan keseluruhan kepuasan kerja, kinerja, berhenti dalam bekerja, dengan kepribadian seorang karyawan.

Maier & Brunstein, (2001), berpendapat bahwa komitmen organisasi merupakan kondisi dimana karyawan sangat tertarik terhadap tujuan, nilai-nilai dan sasaran organisasinya. Komitmen terhadap organisasi artinya lebih dari sekedar keanggotaan formal, karena meliputi sikap menyukai organisasi dan kesediaan untuk mengusahakan tingkat upaya yang tinggi bagi kepentingan organisasi dalam mencapai tujuan.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa komitmen organisasi adalah keadaan psikologis individu yang berhubungan dengan keyakinan, kepercayaan dan penerimaan yang kuat terhadap tujuan dan nilai-nilai organisasi, kemauan yang kuat untuk bekerja demi organisasi dan keinginan yang kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi.

Sumber : http://wangmuba.com



Baca Selengkapnya......

Tips Berorganisasi: Membangun Organisasi Menjadi Komunitas

>> 20 Agustus 2009

Jakarta (GP-Ansor): Pemimpin panutan pasti akan menjadi penghuni jiwa dari setiap orang yang dipimpinnya. Pemimpin panutan tidak akan menjadikan organisasi sebagai birokrasi yang menyulitkan setiap orang, tapi dia akan membangun organisasinya menjadi sebuah komunitas yang memperjuangkan misi bersama. Pemimpin panutan akan memberikan semua perhatian dan cintanya untuk membangun jiwa dan raga setiap orang yang ada di dalam komunitasnya.
Membangun organisasi menjadi komunitas bukanlah cerita baru, tapi hal ini sudah banyak yang memperaktikkannya, dan hasilnya bisa menyatukan semua komponen manusia pendukungnya untuk seiring dalam perjuangan mencapai misi bersama.


Seorang pemimpin adalah koordinator yang menggerakkan orang - orang dari berbagai latar belakang dan kepentingan untuk menyatu dalam sebuah misi yang terarah secara jelas. Sebagai seorang pemimpin panutan diperlukan visi yang jelas dan sederhana agar bisa menggiring orang - orang ke dalam arah yang benar. Pemimpin harus dapat mengoptimalkan keunggulan dan keunikan setiap orang yang dipimpinnya tersebut, agar gairah dan antusias kerja dari
mereka semua bisa sesuai dengan sasaran yang direncanakan.

Gaya kepemimpinan kekeluargaan di dalam komunitas, akan bisa memandu setiap pribadi menjadi individu yang mengerti budaya kerja beretika tinggi. Organisasi sebagai komunitas, akan bisa mengurangi kompleksitas dan risiko beban kerja yang tidak terselesaikan, karena dalam komunitas setiap orang mengerti tanggung jawab, dan mengerti untuk bergerak secara profesional, tanpa perlu menunggu komando dari pimpinan. Dalam realitasnya organisasi sebagai
komunitas akan mengurangi campur tangan pemimpin yang berlebihan terhadap semua masalah. Orang - orang mengerti untuk melaksanakan fungsi dan peran kerja masing - masing secara terbuka dan bertanggung jawab, pemimpin cukup memberi keteladanan hidup yang bisa menciptakan rasa jujur, tanggung jawab, terbuka, adil, percaya diri kepada setiap orang yang dipimpinnya.

Membangun organisasi menjadi komunitas akan menciptakan kepercayaan diri dan keyakinan di hati setiap orang untuk selalu mendapatkan gambaran atas misi dan visi organisasi secara utuh sebelum bertindak lebih jauh. Dan, sang pemimpin bisa menjadi seorang motivator dan sekaligus sahabat terbaik bagi perkembangan semua orang ke arah yang lebih tinggi.

Ketika seorang pemimpin perusahaan sudah mampu melihat organisasinya sebagai sebuah komunitas, maka pemimpin perusahaan tersebut sudah mampu mendelegasikan lebih banyak kepercayaannya kepada para karyawan, dan selanjutnya sang pemimpin perusahaan bisa lebih berkosentrasi mencari peluang - peluang baru yang penuh tantangan. Karyawan yang dibimbing oleh semangat Komunitas biasanya akan menggunakan potensi optimal mereka untuk bekerja lebih efektif dan meningkatkan kinerja perusahaan.

Seorang pemimpin panutan selalu menciptakan rasa aman dan mampu menjadi pengayom yang andal di dalam komunitasnya. Hal ini akan menjadikan orang - orang di dalam komunitas perusahaan, merasa dilindungi dan diperhatikan secara utuh dan penuh oleh sang pemimpin. Kalau para karyawan bergairah terhadap misi, visi, dan nilai, dan yakin bahwa mereka mampu menjalankannya secara maksimal, maka mereka pasti akan bekerja secara rajin dalam disiplin tinggi.

Pemimpin panutan yang efektif akan menjadikan komunitas sebagai sarana untuk menciptakan suatu lingkungan kerja dimana ada kesempatan yang luas untuk melahirkan pemimpin - pemimpin komunitas yang baru dan kreatif. Mereka menyumbangkan persepsi bersama terhadap visi dan misi perusahaan mereka untuk menjadi alat pemersatu mereka di dalam sebuah komunitas yang efektif dan berenergi. Mereka menyatu bersama para karyawan untuk berjuang keras menghasilkan kinerja terbaik. Mereka selalu terbuka untuk menerima gagasan - gagasan baru, keberanian untuk bertindak secara profesional, dan bekerja cerdas dengan motif positif untuk mencapai misi perusahaan secara empurna.

Komunitas merupakan sebuah titik awal dari kesadaran untuk menyatu demi sebuah misi bersama, dan kesadaran untuk
berpikir dan bertindak secara lebih profesional dalam kebebasan kreatifitas tingkat tinggi. Pemimpin panutan akan mampu menciptakan suatu rasa kebebasan, keikhlasan, kesabaran, kesukarelaan, kebersamaan, dan kepedulian. Mereka dapat lebih mudah melakukannya dalam organisasi yang dipraktikkan sepertisebuah komunitas kecil, yang mengutamakan komunikasi multi arah yang mengikat batin mereka semua dalam satu misi bersama.

Komunitas akan mampu memperpendek semua jarak komunikasi di antara orang - orang yang ada didalamnya, dan pemimpin panutan yang efektif akan menjadikan komunitasnya sebagai sarana brainstorming yang efektif buat orang-orangnya dalam mencari solusi yang tepat.

Membangun organisasi menjadi komunitas diperlukan kecerdasan sang pemimpin panutan untuk mampu mendayagunakan semua semangat, motivasi, dan bakat dari orang - orang yang dipimpinnya di dalam komunitas tersebut, agar bisa berjuang dan bekerja secara tulus untuk misi yang mereka perjuangkan.

(Sumber: http://alumni.dikantara.sch.id)

Baca Selengkapnya......

  © Blogger templates Pemula by Republik Pemula 2009

Back to TOP